3 Jenis Gajah Zaman Purba

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata gajah? Pasti, kamu langsung terbayang dengan hewan berukuran besar dengan telinga yang lebar dan gading yang panjang.

Diperkirakan, dulu pada zaman purba ada sekitar 350 spesies gajah di bumi, tetapi hampir dipastikan semuanya punah, kecuali gajah asal Afrika dan Asia. Sedih banget, ya?

Dari spesies yang telah punah itu, ada beberapa gajah purba yang memiliki wujud unik dan berbeda dengan gajah yang kita ketahui sekarang, loh! namun sebelum itu, kepikiran gak sih lo bikin baju gambar gajah purba?? siapa tau nanti viral dan jadi berita fashion indonesia. Nah, Mau tahu selengkapnya?

Berikut 5 Jenis Gajah Zaman Purba

American Mastodon
American Mastodon dulunya menghuni benua Amerika bisa dilihat sesuai dengan namanya. Habitatnya tersebar luas dari Amerika Utara, mulai dari Alaska, pesisir timur Amerika Serikat hingga Meksiko.

Diperkirakan, mereka hidup pada masa Paleogen, yaitu sekitar 30 juta tahun lalu. Sekarang, kita hanya bisa lihat kerangkanya saja.

Tinggi gajah  jantan 10 kaki (3 meter) dan betina ialah 7 kaki (2,1 meter). Beratnya bisa mencapai 6 ton, panjangnya mencapai 4,5 meter dan gadingnya memiliki panjang 2 meter, ujar Canadian Museum of Nature.

Mammoth berbulu

Mammoth berbulu adalah salah satu nenek moyang dari gajah, atau biasa disebut gajah purba. Mamalia Zaman Es ini, ialah salah satu hewan prasejarah yang sangat terkenal saat hidup di zaman Pleistosen.

Gajah purba yang tingginya sekitar 9 hingga 11 kaki, dengan berat 5 hingga 7 ton ini, punah sekitar 11.000 tahun yang lalu, karena perburuan yang tidak terkendali, dan hilangnya habitat mereka di Zaman Es terakhir. Gajah purba yang merupakan salah satu karakter di film animasi Ice Age ini, mati dan terperangkap dalam es, yang melindungi tubuh mereka pada saat Zaman Es terakhir tersebut.

Deinotherium


Deinotherium bukan leluhur langsung gajah zaman modern, melainkan menghuni cabang samping evolusi bersama dengan kerabat dekat seperti Amebeledon dan Anancus.

Pulasi yang terisolasi dari Deinotherium bertahan sampai zaman sejarah, sampai mereka menyerah pada perubahan kondisi iklim (tak lama setelah akhir Zaman Es terakhir, sekitar 12.000 tahun lalu) atau diburu hingga kepunahan pada awal Homo sapiens.

Menurut sebagian cendekiawan beranggapan bahwa hewan ini mengilhami kisah kuno. Dengan bentuk tubuh yang raksasa, menjadikan Deinotherium sebagai mamalia megafauna berukuran lebih besar untuk menembakkan imajinasi nenek moyang yang jauh (seperti, Elasmotherium bertanduk satu mungkin telah mengilhami legenda unicorn).

By Ponly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.